HOME
Ocehan digital dan hal yang lainnya..

Archive

Mengenal Cerita Lewat Buku

  • Author: Rahul Syarif
  • Date: 15 Aug 2017,Tuesday, August 15, 2017
  • Label:
  • Comment: 29 Comments
  • Date: Tuesday, August 15, 2017
    Rugest, UMS, Solo, Solo, Indonesia, ID
    Literasi. Satu kata yang bisa membuat berbagai macam reaksi pada tiap-tiap orang. Di sekolah, literasi wajib sebelum apel sudah di berlakukan. Sebelum sekolah gue mengadakan sistem full day, atau belajar 8-9 jam perhari, literasi hampir setiap hari di lakukan kecuali Senin. Sekarang, literasi jadi makin berkurang menjadi hanya 3 kali seminggu. Yaitu Selasa, Rabu, dan Kamis.

    Sebagai murid yang menyukai kegiatan membaca, gue jadi agak merasa kecewa. Jadi, dengan adanya full day, gue akhirnya memperbanyak waktu baca gue di rumah, yang seharusnya waktu-waktu itu gue pake untuk hal yang lain. Sebelum tidur biasanya gue sempet-sempetin nyicil 10-20 halaman. Atau kalau tidak baca cerpen online. Yah setidaknya, nafsu baca gue perharinya terpenuhi.

    Kegiatan literasi di sekolah menurut gue sangat efektif. Waktu literasi itu biasanya gue pake untuk melanjutkan bacaan gue. Kebanyakan novel dan sastra. Dan setiap harinya, hanya sedikit waktu yang diberikan untuk kegiatan ini. Paling lambat mungkin cuma 20 menit.

    Gue adalah tipikal orang yang kalau membaca itu harus sunyi. Beberapa orang kadang, membaca buku sambil mendengarkan lagu atau di tengah suara bising, gue ngga bisa seperti itu. Pernah sekali mencoba membaca buku dengan lagu Despacito malah berakhir dengan ngomong-ngomong ngga jelas. Jadi itulah, waktu literasi di sekolah sangat berguna, karena di waktu lain, pasti terdengar suara ribut.

    Jujur, gue adalah orang yang suka cerita. Gue selalu haus akan cerita. Sebelum mengenal novel dan berbagai macan kawannya, gue hanya membaca kisah Abunawas, Nabi, sampai cerita lucu di internet. Cerpen waktu itu adalah bacaan berat bagi gue.

    Setelah beberapa waktu, gue kemudian mengenal Raditya Dika lewat bukunya, Manusia Setengah Salmon, yang di kenalkan oleh teman gue. Ini salah dua ceritanya: cerita 1 dan 2. Gue kemudian terngiur untuk membeli buku seperti itu setelah membaca beberapa halaman. Lalu gue membeli satu buku dan akhirnya Gramed menjadi tempat nongkrong gue tiap Minggu.

    Dari dulu, uang untuk membeli buku adalah hasil dari uang saku yang gue kumpul. Gue jarang belanja, sekalinya belanja buku, uang gue bisa habis beratus-ratus ribu. Itu dulu, sebelum buku semahal sekarang. Gue ngga heran dengan naiknya harga buku ini. Gue cuman bisa mengakali dengan membeli buku setiap dua bulan sekali. Sejarang itu.

    Jaman-jamannya baru suka baca novel juga selalu ingin cuma baca bukunya Raditya Dika. Setelah semua bukunya gue baca, gue merasa habis akan bahan bacaan. Gue lalu mikir: kalo gue cuma baca buku Raditya Dika, gue akan terus menunggu seperti ini setiap tahun sampai dia mengeluarkan buku. Jadi, pada saat itu juga, gue pergi ke Gramed tanpa referensi atau rekomendasi apa-apa, gue mencoba melihat-lihat buku yang ada. Gue akhirnya mengambil satu buku dan membawa pulang. Waktu itu personal-literature sangat ramai, jadi kebanyakan gue liat buku seperti itu.

    Buku yang gue ambil secara random ternyata juga gue suka, dan gue akhirnya berpikir luas untuk membaca semua karya penulis manapun dan bercita-cita menjadi penulis. Pengaruh cerita memang sangat besar bagi kehidupan gue. Sedari kecil, gue sama bokap atau tante sering nonton film bareng. Bokap sukanya film action, tante sukanya sinetron laga Indosiar. Gue hampir tiap hari mengikuti semua sesi nonton itu. Sampai gue tahu namanya medium buku, salah satu media lain dari cerita.

    Gue mengoleksi semua buku yang gue baca dan gue suka. Gue berniat tidak akan menjual atau memberi siapapun. Karena menurut gue, itu adalah pengalaman membaca gue. Buku yang gue habis baca, gue simpan serapi mungkin dari standar seorang cowok. Jikalau ada yang mau meminjam, gue akan berpikir keras. Khawatir dengan buku-buku yang gue beli dengan jerih payah dan pengalaman membaca yang tidak tergantikan.

    Ebook sekarang adalah salah satu pengganti, atau bisa di bilang media lain dari buku yang sudah ada dalam bentuk elektronik. Gue adalah orang yang menolak itu. Bukan karena tidak mau mengikuti jaman, tapi gue orang yang paling tidak bisa berlama-lama melotot di hape dalam keadaan konsentrasi dan buku yang sudah gue baca tersimpan begitu saja di dalam hape. Tidak ada kenangan yang tersimpan. Dari buku yang terlipat, atau penanda yang hilang.

    Sebagai kolektor buku, gue tidak merasa buku gue sudah banyak. Buku yang gue punya masih terbilang sedikit. Gue cuman berusaha membeli maksimal, membaca maksimal, dan mengoleksi secara maksimal. Gue selalu mengutamakan membeli buku yang dari dulu gue incar. Tapi kadang, rekomendasi penulis favorit bisa jadi penghalang itu semua.

    Sekarang, gue mau mencoba mengintipkan kalian isi lemari buku gue. Isinya buku yang gue beli dari toko buku dan online. Cekidotz.
     
    Ini adalah rak tempat buku sastra dan beberapa buku tips menulis. Masih sangat sedikit. 

    Walaupun gue menamakan rak ini tempat buku terjemahan, kalian masih akan menemukan buku dari Indonesia.

     
    Rak ini berisi buku-buku novel dan komik. Walaupun gue cuman punya dua komik. Satu komik Si Juki yang gue beli karena penasaran, dan satu komik Waltz in White yang gue dapat dari laci kelas.

    Ini adalah penampakan keseluruhan lemari buku gue. Abaikan segala macam benda yang berantakan itu. 

    Buku yang kalian liat itu adalah sejarah dimana gue mulai membuat blog ini. Mulai mengenal cerita dari media buku, sampai ikut-ikutan nulis, dan mengenal blog. Itulah yang gue maksud untuk tidak menjual buku yang gue punya, kecuali dalam hal lain. Gue menganggap buku itu adalah teman gue. Di kala sepi, buku adalah teman paling pas. Gue bukan pencitraan karena tidak bilang bahwa sepi gue ngga main hape. Tapi selebih daripada main hape, gue akhirnya akan kembali mengambil buku. Walaupun sebab-dua bab.

    Sekarang gue lagi krisis uang, bukan curhat, hanya menginformasikan. Buku yang gue punya untuk di baca tinggal dikit dan uang gue buat beli masih tertahan di beberapa kebutuhan. Jadi, gue mengakalinya dengan cara mengikuti lomba atau giveaway. Kalo orang bilang, mau menang atau kalah bodo amat. Gue disini akan bilang, gue harus menang, bodo amat.

    Buku yang terakhir gue beli adalah buku rekomendasi dari penulis favorit. Itu adalah buku pemenang Man Booker International Prize, Vegetarian karya Han kang.
     

    Menurut gue, buku dalam sisi kehidupan gue sangat berpengaruh. Kadang membuat gue sedih, senang, atau merenung. Cerita dan karakter yang biasanya relate dengan kehidupan yang gue jalani membuat gue sering mengira pengarang ini menulis kisah hidup gue. Setelah tau semua itu hanya imajinasi gue, gue akhirnya berniat menjadi penulis. Menulis kisah dan cerita yang ingin gue bagi. Yang ingin gue suarakan ke orang banyak. Karena menurut gue, buku adalah salah satu hal yang tidak akan mati.

    Gue ingin, suatu hari nanti, gue jalan di toko buku, dengan muka kembang kempis sok nanya,"Eh ini buku keren banget. Padahal baru baca blurb-nya lho.." Padahal itu buku gue sendiri.

    Gue ingin cerita yang gue bagi membuat cara pandang orang terhadap sesuatu menjadi berbeda seperti yang gue rasakan. Gue ingin memberi tahu ke orang banyak, gue punya cerita, ini dengarkan.
    Gue ingin bilang ke orang banyak, ini, baca buku, kamu perlu asupan cerita.

    Tulisan ini diikutsertakan kedalam giveaway dari Robby Haryanto.

    29 comments

    1. Sambil dengerin musiknya yang instrumental, akustikan, atau tanpa lirik deh, itu bikin lebih fokus kalau gue.

      Wow, Rahul ternyata koleksinya lebih banyak dari gue. Hahaha, merasa sedih karena mulai jarang beli buku. Bagus deh, pertahankan kesukaanmu membaca dan suatu hari jadi penulis~

      Mantap nih tulisannya. Menanginlah, Rob! Bodo amat, gue gak mau tau.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya, sih, musik tanpa lirik itu enak banget. Kayak jazz klasik gitu.

        Satu suara mendukung nih. :D

        Delete
    2. Rahul baca buku-bukunya John Green juga. Gokil nih. Kalau gue sekarang lagi mau ngumpulin koleksi Nicholas Sparks buat referensi baru. :D

      Btw, good luck buat giveawaynya ya. nanti gue hipnotis Robby biar lu dimenangin.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya, Nicholas Spark juga keren.

        Oke, gue tunggu kabar baiknya~

        Delete
    3. Rata-rata blogger emang wajib punya banyak buku sih ya. Karena penulis yang baik adalah pembaca yang rakus.

      Wah baru tau ada giveaway ginian, mau ikutan tapi lu nanti makin banyak saingan buat menang. Gimana dong?

      Btw semoga menang yaaaak!

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hmm, tergantung mereka, kan sesama blogger bisa saling baca.

        Hmm, dilema.. :(

        But, thx~

        Delete
    4. salut sama ayng suka baca, aku juga suka baca dan skrg lagi mulai baca lagi stlh berhenti saat anak2 masih kecil

      ReplyDelete
      Replies
      1. Lama banget. Yuk baca, naikkan tingkat baca Indonesia~

        Delete
    5. Suka membaca buku itu langkah yang bagus untuk jd penulis... Semakin banyak baca maka semakin banyak ide untuk menulis :)

      Semoga impian mu menjadi penulis tercapai. Amiin

      Btw koleksi nya mantep jg nih, banyak buku2 mu yg blm pernah ku baca, hehe

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hmm iya, makasih, Citra.

        AMIN!

        Baca gih~

        Delete
    6. Banyak juga koleksi buku mu ya.

      An juga buku yang pertama Kali aku beli yaitu buku Kuala kumal punya nya raditya dika.

      ReplyDelete
    7. banyakkk ee
      uda selemari aja
      iyah sama
      aku juga yang ogah sama ebook
      yak baca wassap gebetan aja udah perih mata
      lah lah lah

      eh btw btw btw
      kamu baca jhin green bagus ga sih
      aku sebelumnya gatau dan baru tau pas blogwalk ke sini :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. John Green bagus, salah satu penulis favorit. Makanya, yuk baca~

        Delete
    8. Ceritanya menyentuh hati. Sebagai book blogger, saya ingin kasih rahul keprok tangan ah.... Prok prok prok. Keep reading and keep writing, one day you'll find your own book stand on a shelf in a book store. Aamiin. Buku2 koleksimu kurang lebih sama dgn bbrp judul yg saya koleksi jg. :). Sweet banget :D

      ReplyDelete
    9. Rahul keren banget!
      Selalu salut sama orang-orang yang suka membaca. Soalnya aku sendiri masih belajar untuk menyukai buku serta membiasakan diri untuk terus membaca, yah walaupun nggak seintens kamu, hahaha..
      Aku sendiri baru beli 3 buku, ngenes banget g sih? Tapi gpp, g ada yang terlambat, semua hal baik bisa segera kita mulai dan dalami.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Yuk, baca. Ngga melulu soal punya buku, yang penting niat~

        Delete
    10. wah keren nih anak, Rahul maksut gue. Hihi...jarang jarang lho ada anak yang suka membaca sampai menyisihkan uang demi membeli buku, semata mata untuk memuaskan dahaga membacanya. Kereeeeeen...dan kerennya lagi sekolah Rahul ada kegiatan literasinya. Bahkan di sekolah yang gue ajar pun nggak ada tuh. seharusnya memang sekolah lainnya bisa kayaksekolah Rahul. Membaca itu penting dan seharusnya ditanamkan lewat bangku sekolah, nggak cuman slogan nya saja yang didengung dengungkan begitu.
      Rahul keren pokoknya, 10-20 lembar per hari itu sudah kereeeen lho.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Yah, namanya hobi.. :)

        Kayaknya, hampir semua sekolah deh ini di terapin. Ngga tau juga..

        Delete
    11. Kadang, gue juga kalau baca sambil dengerin musik bisa kurang fokus. tapi tergantung musiknya juga sih. Kalau dengerin EDM malah bawaannya pasti pengen joget, pernah baca sambil dengerin lagu folk gitu dan bacanya jadi asyik. Tapi tetep sih, setiap orang beda selera haha

      ReplyDelete
    12. Wah keren.. Selalu menyempatkan waktu buat membaca.. Semangat.. Harus konsisten..
      Saya pengennya giti tapi gak bisa mulu..
      Baca tulisan kamu ini, saya jadi dapat inspirasi menulis.. Hehehe kapan2 saya tulis juga ya tentang koleksi buku saya..

      ReplyDelete
    13. Mulai dari sekarang, dong..

      Siap, di tunggu~

      ReplyDelete
    14. Aku awal-awal suka baca buku pas zaman SMK,
      telat banget emang tapi ga apa apa..

      nah dari situ aku jadi jarang jajan, duitnya di tabung cuma buat beli buku.
      nah sekarang pas liat koleksi buku jaman dulu ko rasanya nyesel ya, soalnya bukunya lebay-lebay gitu, novel teenlit juga banyak :(

      ReplyDelete
    15. Untung udah lulus jadi enggak ngerasain full day school, hmmm banyak banget bacaannya saking sukanya sampai nyisihin duit buat beli buku.



      kalo aku mending buat beli makan...

      ReplyDelete

    Baca dulu baru komentar, biar nyambung aku balasnnya~